Rabu, 08 Oktober 2008

Terbaik untuk Anak

Oleh Ulin Nuha Masruchin

Anak adalah buah hati bagi orang tuanya. Terlebih bagi kaum ibu, sejak proses reproduksi hingga dewasa ibu selalu menjadi teman setia. Hadirnya buah hati itu sebagai pelengkap hidup dalam membangun mahligai kehidupan. Terciptanya hidup yang tentram, didasari balutan kasih sayang dan komitmen bersama. Disinilah, tujuan hidup berkeluarga serta pentingnya anak bagi yang berumah tangga.

Perjalanan hidup orang tua dalam mengurus anaknya butuh waktu lama. Mulai calon anak (sebelum 4 bulan), usia kandungan, pasca melahirkan, hingga usia dewasa nanti. Perkembangan anak pun perlu mendapat perhatian semua orang.

Saat anak masih berada dalam kandungan, orang tua sudah terlibat dalam proses pengajaran dan pendidikan anak. Artinya, saat ibu hamil perlu dilatih sejak dini soal pendidikan moral. Segala aktifitas ibu mulai makan, minum, berbicara, perlu dilandasi dengan pendidikan yang baik dan terpuji. Pendidikan pranatal akan tercitra seiring anak tersebut menjadi dewasa.

Apa yang dilakukan calon ibu itu akan merefleksi terhadap perkembangan psikologis dan intelektualnya. Mitos-mitos yang masih berkembang, bahwa ibu hamil tak diperbolehkan tidur saat pagi hari. Menghindari sikap tamak (serakah), berprasangka buruk, mudah marah dan lain sebagainya. Sikap dan perilaku sang ibu ini, besar kemungkinan akan berdampak pada diri anaknya. Walaupun sekedar mitos, hal tersebut mengandung unsur pendidikan moral yang perlu diperhatikan.

Serta pemberian air susu ibu (ASI) juga bukti kasih sayang yang diberikan ibu. Dalam hal psikologis, ibu terasa lebih dekat dengan anaknya dibanding sang ayah. Kajian medis menjelaskan, ASI sangat baik bagi pertumbuhan anak di usia dini. ASI sangat penting untuk bayi karena formulanya belum tertandingi dengan formula susu lain.

Pemberian ASI pada hari pertama sampai hari keempat, mengandung banyak kolostrum yang berefek pada kekebalan tubuh. Semisal penyakit diare, infeksi telinga, pilek-batuk dan berbagai alergi. Tingkat kekebalan yang dihasilkan kolostrum, mencapai 7-10 kali jika dibandingkan dengan susu matang. (suara merdeka, 2007). Disisi lain, ASI juga mengandung taurin, sehingga memacu kecerdasan dan pertumbuhan anak.

Kadang, sang ibu mengabaikan pendidikan dan pertumbuhan anaknya sendiri. Tak jarang kaum ibu enggan menyusui, mereka memercayakan kesehatan anaknya pada susu produksi pabrikan. Berbagai alasan pun diungkapkan, bekerja, mengejar karir, sampai mengurangi keindahan tubuh. Apalagi jika menjadi publik figur seperti kaum selebritas, sehingga popularitas harus terjaga dengan tubuh yang prima.

Pengenalan produk berbahan kimiawi sangat riskan bagi tubuh sang bayi. Semisal sabun, sampo, bedak dan susu binatang yang diproses secara kimiawi. Kulit bayi halus itu terpaksa diolesi zat-zat yang membahayakan. Sehingga kesehatan belum menjadi jaminan.

Usia Perkembangan

Pada usia 1 sampai 4 tahun, daya intelektual anak belum stabil. Saat memasuki usia sekolah yakni berumur 6 tahun, anak selalu bertanya dan penasaran apa yang ada di sekitarnya. Pertanyaan tak logis pun kerap disampaikan, dan daya imajinasi berkembang sejalan usia anak.

Kenapa saya dilahirkan sebagai laki-laki, sedangkan si A perempuan? Orang tua harus bijaksana saat memberikan jawaban. Jangan sekali-kali berbohong terhadap anak, jika ingin mendidik anak yang baik.

Orang tua selalu teladan anak-anak dalam bertindak dan bertutur. Orang tua yang baik, akan memberi contoh baik terhadap sang anak, begitu pula sebaliknya. Jika bertingkah tak sewajarnya dilakukan, jangan harap anak berprilaku baik. Karena pendidikan moral pertama kali dikenalkan di lingkungan keluarga.

Ulin N Masruchin,

Pemerhati masalah anak, sekretaris LS2B Sumur Tulak Kudus


Kudus dengan Rumah Adatnya

Oleh Ulin Nuha Masruchin

Salah satu khazanah budaya seni asal Kudus adalah rumah adat Kudus atau Oemah Pencu. Ikon lokal khas Kudusan itu hingga kini masih tersisa 33 buah. Berkurangnya aset budaya tersebut atas keterancaman arus globalisasi dan jaring postmoderism. Bangunan Cagar Budaya (BCB) itu kian tersisih lantaran semangat peradaban dunia modern yang kian kuat. Tantangan Kudus ke depan, bagaimana upaya mempertahankan citra lokal yang mengandung nilai sejarah itu.

Kudus bukan lagi tempo yang dulu. Beberapa polesan perwajahan tata kota kota mengalami perubahan yang berarti. Terlebih telah dibuka pusat perdagangan sebagai sumber ekonomi dan industri yang sangat mencolok. Keberadaan real-estate, ruko-ruko saling berhadapan, serta pusat perbelanjaan modern (mall).

Perkembangan Kudus tersebut sebuah pemandangan maju dalam arti fisik. Walau simbol modernitas itu semakin bertengger, Kudus perlu sadar bahwa keberadaan potensi kearifan lokalnya. Mengkultuskan modernitas nan futuristik dan lupa jiwa kedaerahan (konservatif), sebuah ‘penghianatan’ budaya sendiri.

Semisal, Rumah Adat akan tetap menjadi ‘ruh’ kekayaan budaya. Bentuk unik kombinasi bangunan bentuk limas dan Joglo masih diminati pecinta arsitektur. Nuansa kharismatik ukir atau tatahan kayu pada Gebyok Kudus, tak jarang mengundang komoditas hingga milyaran rupiah.

Makna Filosofis

Bentuk Naga, mahkota, bunga, hingga ukiran Padupan, menyimpan cerita tersendiri. Ragam serta motif yang berlainan, memiliki makna pluralitas sosial-budaya bagi Kudus. Apalagi Kudus terbagi memiliki ragam kepercayaan, Islam, Kristen, Hindu dll pada era Sunan Kudus masih hidup. Nilai toleransi dan pluralisme sangat kental ditengah-tengah perbedaan komunitas.

Rumah adat Kudus hadir sebagai perpaduan dan representasi budaya lokal. Konon, kesenian tersebut dikenalkan The Ling Sing, sosok tokoh ulama kebangsaan Tiongkok. Selain mengajar ilmu agama, ia menularkan keterampilan seni (life skill) berupa ukir-ukir gebyok. Setelah mbah Telingsing (panggilan akrabnya) meninggal, warisan kesenian telah dikembangkan masyarakat Kudus, Jepara dll.

Keunikan lain pada penataan pembagian ruang. Joglo satru (Jogan) , ruangan ini difungsikan sebagai ruang tamu. Jogo Satru memiliki arti menjaga satru (musuh), sehingga tempat berlindung dari kepungan musuh. Soko Genter (satu tiang) itu melambangkan bahwa Allah itu tunggal atau satu. Ada juga yang menafsirkan berbeda, soko memiliki arti pusat kekuatan seseorang. Sentong (ruang dalam), salah satu sub bagian sebagai tempat pelaminan leluhur.

Ada empat pilar di bangunan asli Kudus itu. Sebagai perlambang dari tingkatan nafsu seseorang. Mulai amarah, aluamah, sufiah dan muthmainnah. Urutan jenis nafsu ini adalah jenjang kehidupan manusia. Nafsu amarah menjadi alu’amah, dari sufiah mencapai muthminnah, adalah proses jenjang harus dilalui bertahap. Dalam substansi nilai, manusia hidup itu harus mampu mengendalikan empat nafsu yang ada di dalam tubuhnya.

Ketiga, Pawon, tempat bisa sebagai ruang serba guna. Tempat dapur, ruangan makan, berada di bagian ini. Di depan pawon, terdapat sumur, kamar mandi serta padasan (tempat berwudlu). Artinya, masyarakat Jawa kuno sebelum masuk ke dalam rumah harus membersihkan diri terlebih dahulu. Karena kebersihan itu sebagian dari iman.

Orang Jawa termasuk masyarakat Kudus sering mengaitkan nilai filosofis terhadap segala aktifitasnya. Pemaknaan setiap ruang itu memberikan bahwa pembangunan rumah Adat perlu sarat pertimbangan dan analisa. Sudah pantas kalau rumah adat Kudus terkesan estetis, artistik dan berbau mistisisme.

Rumah adat sekarang

Seiring waktu berjalan, keberadaan bangunan semakin berkurang. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, berupaya melindungi terhadap Benda yang termasuk Cagar Budaya (BCB).

Penjualan aset budaya oleh pemilih rumah adat kadang sebuah delema panjang. Pemilik BCB bermaksud menjual karena memiliki hak jual barang. Karena didesak kebutuhan, BCB pun terpaksa dijual kepada pihak pembeli. Praktek demikian memang sebuah bak pisau bermata dua. Penjualan bisa dikatakan menjual aset budaya, dan juga sebuah hak pribadi menjual barangnya.

Benturan antara keinginan menjual dan mempertahankan ini perlu dicarikan akar solusinya. Pemilik pun tak bisa berkutik sebab warisan yang dimiliki hanyalah barang tersebut. Dalam hal ini, pemerintah daerah perlu bertindak sebagai protektor BCB.

Dorongan menjual pemilik BCB sangatlah besar. Pasalnya, nilai jual perangkat rumah Kudus, cukup tinggi. Sehingga transaksi jual beli tak jarang terjadi Kudus. Menurut UU RI No 28 tahun 2002 tentang Bangunan gedung, menjelaskan, pemilik wajib menjaga kelestarian BCB sebagai ketentuan-ketentuan pemerintah. Hemat penulis, pemkab Kudus perlu sebagai pengganti pemilik BCB itu. Sehingga pelestarian dan pengelolaan pun lebih terawat.

Untuk menjaga keberlangsungan dan upaya nguri-nguri aset lokal, Pemkab Kudus perlu menghimbau pemborong atau arsitek dalam pendirian sebuah bangunan. Pembangunan yang diharapkan sesuai citra bangunan Kudus. Walau pun tak sama persis, nuansa akan kedaerahan terasa kental bagi masyarakat Kudus.

Ruko-ruko didisain kesan nilai lokal dan tetap maju. Hal ini yang bisa kita buktikan saat bersafari di kota Bali. Disana, mudah ditemui kanan-kiri jalan berdirikan bangunan khas Bali. Wajar kalau wisatawan mancanegara jika lebih mengenal provinsi Bali dibanding negara Indonesia. Karena citra yang melekat dan ajeg pada lokalitas, Bali tetap menawan bagi wisatawan.

Hal inilah, yang perlu diduplikasi tata kota bagi pembangunan Kudus ke depan. Membangun image Kudus dengan mengenalkan rumah adat Kudus, sebuah solusi yang perlu dicoba. Sebab membangun citra dan identitas, akan lebih melekat dibanding pembangunan fisik saja.

Penulis adalah,

Staf LS2B Sumur Tulak dan

Redaktur Pena Kampus Universitas Muria Kudus

Berdomisili dijalan KH. Arwani No 131 A Kaliwungu Kudus 59332 (0291)440445

Mobile phone: 0828 294 1989 No rekening BRI :5928-01-015556-53-4

Baik Belum Tentu Dipahami

Oleh Ulin Nuha Masruchin

Menulis media penyampaian ilmu, pemikiran, serta ide-ide dengan menggunakan kata-kata. Transfer ilmu melalui karya tulis semisal buku, jurnal ilmiah, artikel, butuh sistematika tulisan yang lazim dipakai. Agar tulisan bisa terterima dan dicerna pembaca, tulisan harus sesuai kaidah di dunia tulis-menulis. Sehingga pembaca mengerti tentang isi teks yang dimaksud.

Menulis sama saja mencurahkan (upload) isi pikiran seseorang. Pencairan gagasan atau ‘curhat’ melalui media tulis adalah hal yang tepat. Walau bisa cara verbal, bertutur dan bercerita, menulis proses produkif dan berdaya tahan lama. Ada petuah mengatakan, ‘yang bersuara akan mengudara, yang tertulis akan selalu mengabadi.’

Semisal, buku diari, agenda, bisa diambil dari refleksi peristiwa nyata kehidupan penulis. Menulis berdasar peristiwa, mengasah kecerdasan kognitif dan ingatan seseorang. Bahkan, mediasi saat menyalurkan perasaan atau kejadian itu bisa menghasilkan karya yang berprofit besar. Semisal, novel namaku hiroko karya Nh. Dini itu, duplikasi kehidupan nyata bagi novelis kelahiran Semarang itu.

Bagaimana menyusun kata, kalimat, bahkan sampai berparagrap, butuh proses berpikir lama. Mudahnya dalam mengalirkan ide-ide, sebab daya kognitifnya yang sering diasah. Berjuta-juta ide berseliweran di otak manusia, perlu teknis jitu untuk menyalurkannya.

Orang berintelektual tinggi dan kaya wacana, ingatannya akan selalu setia jika mau ditulis. Disiplin ilmu dan pengalaman hidup lebih bermakna jika hal itu dikaryakan (buku). Menulis upaya menyampaikan ilmu, gagasan, dan pikiran kepada orang lain. Ada beberapa cara atau langkah dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Pertama, jika tulisan bisa diterima (dipahami) berarti tulisan bisa dikatakan berhasil. Asalkan esensi tulisan bisa tersampaikan ke pembaca, transfer ilmu tak ada hambatan. Hemat penulis, tulisan yang bagus adalah saat pembaca tak merasa kesulitan. Tujuan menulis dimaksud tak lain untuk saling berbagi ilmu, ide dengan orang lain.

Bukan tulisan sarat istilah ‘langitan’, atau mengandung serapan bahasa asing. Lebih menyedihkan lagi, hasil tulisan itu membingungkan dan tak dapat dipahami para pembaca. Dalam hal ini, penulis gagal menyalurkan ide-idenya, karena logika tulisan masih rancu.

Kedua, rakus terhadap bahan bacaan apapun. Aktifitas ini sangat menunjang keberhasilan dalam membuat karya hebat dan berbobot. Membaca yakni proses menyerap ilmu dari bahan bacaan sebagai modal menulis. Bagaimana bisa menulis indah dan memiliki nilai bahasan berat, kalau penulisnya tak rajin membaca.

Istilahnya, membaca upaya kulakan pengetahuan yang ingin disampaikan penulis. Jika sang penulis miskin wacana, jangan harap ‘pisau’ analisis akan menjadi tajam. Bahan bacaan melimpah salah satu modal wajib calon penulis. Bagi penulis profesional, sebelum menghasilkan karya yang best sellernya, rela berhamburkan uang untuk beli buku.

Menulis dan membaca dua aktifitas saling memengaruhi. Orang bisa menelurkan ide-ide cerdas lantaran dekat dengan buku. Kombinasi aktifitas ini harus berjalan simultan. Menulis tanpa membaca menghasilkan karya tanpa rasa. Juga membaca tanpa menulis sama saja hal yang sia-sia. Para cendekiawan, para pemimpin yang memiliki kecerdasan dan gagasan yang brilian karena mereka rakus bacaan.

Sebut saja Ir. Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka, pemimpin bangsa itu kesehariannya bergelimang buku. Buku-buku bak istri kedua yang selalu bisa dinikmati dimana pun dan kapan pun itu. Bahkan, saat Bung Hatta akan dimasukkan ke bui, beliau minta ijin mengemas bukunya dibawa ke penjara. Buku terkesan barang sepele, tapi kandungan manfaatnya begitu besar bagi kehidupan manusia.

Ulin N Masruchin,

Redaktur LPM Pena Kampus UMK