Rabu, 08 Oktober 2008

Baik Belum Tentu Dipahami

Oleh Ulin Nuha Masruchin

Menulis media penyampaian ilmu, pemikiran, serta ide-ide dengan menggunakan kata-kata. Transfer ilmu melalui karya tulis semisal buku, jurnal ilmiah, artikel, butuh sistematika tulisan yang lazim dipakai. Agar tulisan bisa terterima dan dicerna pembaca, tulisan harus sesuai kaidah di dunia tulis-menulis. Sehingga pembaca mengerti tentang isi teks yang dimaksud.

Menulis sama saja mencurahkan (upload) isi pikiran seseorang. Pencairan gagasan atau ‘curhat’ melalui media tulis adalah hal yang tepat. Walau bisa cara verbal, bertutur dan bercerita, menulis proses produkif dan berdaya tahan lama. Ada petuah mengatakan, ‘yang bersuara akan mengudara, yang tertulis akan selalu mengabadi.’

Semisal, buku diari, agenda, bisa diambil dari refleksi peristiwa nyata kehidupan penulis. Menulis berdasar peristiwa, mengasah kecerdasan kognitif dan ingatan seseorang. Bahkan, mediasi saat menyalurkan perasaan atau kejadian itu bisa menghasilkan karya yang berprofit besar. Semisal, novel namaku hiroko karya Nh. Dini itu, duplikasi kehidupan nyata bagi novelis kelahiran Semarang itu.

Bagaimana menyusun kata, kalimat, bahkan sampai berparagrap, butuh proses berpikir lama. Mudahnya dalam mengalirkan ide-ide, sebab daya kognitifnya yang sering diasah. Berjuta-juta ide berseliweran di otak manusia, perlu teknis jitu untuk menyalurkannya.

Orang berintelektual tinggi dan kaya wacana, ingatannya akan selalu setia jika mau ditulis. Disiplin ilmu dan pengalaman hidup lebih bermakna jika hal itu dikaryakan (buku). Menulis upaya menyampaikan ilmu, gagasan, dan pikiran kepada orang lain. Ada beberapa cara atau langkah dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Pertama, jika tulisan bisa diterima (dipahami) berarti tulisan bisa dikatakan berhasil. Asalkan esensi tulisan bisa tersampaikan ke pembaca, transfer ilmu tak ada hambatan. Hemat penulis, tulisan yang bagus adalah saat pembaca tak merasa kesulitan. Tujuan menulis dimaksud tak lain untuk saling berbagi ilmu, ide dengan orang lain.

Bukan tulisan sarat istilah ‘langitan’, atau mengandung serapan bahasa asing. Lebih menyedihkan lagi, hasil tulisan itu membingungkan dan tak dapat dipahami para pembaca. Dalam hal ini, penulis gagal menyalurkan ide-idenya, karena logika tulisan masih rancu.

Kedua, rakus terhadap bahan bacaan apapun. Aktifitas ini sangat menunjang keberhasilan dalam membuat karya hebat dan berbobot. Membaca yakni proses menyerap ilmu dari bahan bacaan sebagai modal menulis. Bagaimana bisa menulis indah dan memiliki nilai bahasan berat, kalau penulisnya tak rajin membaca.

Istilahnya, membaca upaya kulakan pengetahuan yang ingin disampaikan penulis. Jika sang penulis miskin wacana, jangan harap ‘pisau’ analisis akan menjadi tajam. Bahan bacaan melimpah salah satu modal wajib calon penulis. Bagi penulis profesional, sebelum menghasilkan karya yang best sellernya, rela berhamburkan uang untuk beli buku.

Menulis dan membaca dua aktifitas saling memengaruhi. Orang bisa menelurkan ide-ide cerdas lantaran dekat dengan buku. Kombinasi aktifitas ini harus berjalan simultan. Menulis tanpa membaca menghasilkan karya tanpa rasa. Juga membaca tanpa menulis sama saja hal yang sia-sia. Para cendekiawan, para pemimpin yang memiliki kecerdasan dan gagasan yang brilian karena mereka rakus bacaan.

Sebut saja Ir. Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka, pemimpin bangsa itu kesehariannya bergelimang buku. Buku-buku bak istri kedua yang selalu bisa dinikmati dimana pun dan kapan pun itu. Bahkan, saat Bung Hatta akan dimasukkan ke bui, beliau minta ijin mengemas bukunya dibawa ke penjara. Buku terkesan barang sepele, tapi kandungan manfaatnya begitu besar bagi kehidupan manusia.

Ulin N Masruchin,

Redaktur LPM Pena Kampus UMK


Tidak ada komentar: